Selasa, 19 September 2023

Soal dan Kunci Jawaban modul 3 Iklim Sekolah Aman: Mencegah Perundungan

 1.       Mengajak peserta didik untuk berperan aktif mencegah perundungan dapat dilakukan dengan…

2.       Kegiatan menumbuhkan empati yang kurang tepat dilakukan di jenjang SMA adalah…

3.       Berikut adalah contoh pencegahan perundungan di sekolah berdasarkan kerangka layanan dasar, yaitu…

4.       Berikut ini yang bukan termasuk pelibatan murid dalam upaya pencegahan kasus perundungan adalah…

5.       Di bawah ini yang bukan merupakan informasi layanan pengaduan perundungan di satuan pendidikan yang tepat adalah…

Teori Belajar behavioristik

 

Teori belajar behavioristik adalah teori belajar yang mengedepankan perubahan perilaku peserta didik sebagai hasil proses pembelajaran. Terjadinya perubahan tingkah laku diakibatkan oleh adanya interaksi antara stimulus dan respon. Teori belajar ini berorientasi pada perilaku yang lebih baik.

Prinsip teori belajar behavioristik adalah sebagai berikut.

  1. Apabila seseorang sudah mampu menunjukkan perubahan perilaku, maka dikatakan sudah belajar. Artinya, kegiatan belajar yang tidak membawa perubahan perilaku tidak dianggap belajar menurut teori ini.
  2. Hal yang paling penting pada teori ini adalah stimulus dan respon karena bisa diamati. Hal-hal selain stimulus dan respon tidak dianggap penting  karena tidak bisa diamati.
  3. Adanya penguatan (reinforcement), yaitu hal-hal yang bisa memperkuat respon. Penguatan bisa berupa penguatan positif dan negatif.

Ciri teori belajar behavioristik

  1. Mengutamakan pengaruh lingkungan.
  2. Hasil pembelajaran fokus pada terbentuknya perilaku yang diinginkan.
  3. Mementingkan pembentukan reaksi atau respon.
  4. Bersifat mekanistis atau dilakukan dengan mekanis tertentu, misalnya meminta maaf.
  5. Menganggap latihan itu adalah hal yang penting dalam proses pembelajaran

Langkah-langkah pembelajaran menurut teori belajar behavioristik secara umum antara lain sebagai berikut.

  1. Menentukan tujuan pembelajaran yang akan dicapai,
  2. Pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar,
  3. Mengidentifikasi pengetahuan awal peserta didik,
  4. Menelaah materi pelajaran,
  5. Menyajikan materi,
  6. Memberikan stimulasi, dapat berupa pertanyaan baik lisan maupun tulisan,
  7. Mengamati dan mengkaji respons yang diberikan peserta didik, serta menilainya, sehingga peserta didik dapat mengetahui apakah yang dikerjakannya benar atau salah. Jika terjadi kesalahan, maka segera perbaiki dan bantu peserta didik melanjutkan pelajaran,
  8. Memberikan penguatan,
  9. Mengamati dan mengkaji respons peserta didik kembali, dan
  10. Memberikan penguatan lanjutan

lebihan Teori belajar behavioristik

  1. Guru akan terbiasa untuk bersikap teliti dan peka saat melakukan kegiatan belajar mengajar.
  2. Guru lebih sering membiasakan peserta didiknya untuk belajar mandiri, tetapi ketika peserta didik kesulitan baru bertanya kepada guru.
  3. Dapat mengganti cara mengajar (stimulus) yang satu dengan stimulus lainnya hingga mendapatkan apa yang diterima oleh peserta didik (respon).
  4. Teori belajar behavioristik sangat cocok untuk mendapatkan kemampuan peserta didik yang mengandung unsur-unsur kecepatan, spontanitas, dan daya tahan tubuh.
  5. Teori belajar behavioristik bisa membentuk perilaku yang diinginkan. Dengan kata lain, perilaku yang berdampak baik bagi peserta didik diberi perhatian lebih dan perilaku yang kurang sesuai dengan peserta didik perhatiannya dikurangi.

Kekurangan Teori belajar behavioristik

  1. Tidak semua pelajaran dapat menggunakan teori belajar behavioristik.
  2. Guru diharuskan untuk menyusun bahan ajar ke dalam bentuk yang sudah siap.
  3. Peserta didik cenderung diarahkan untuk berpikir linier, konvergen, tidak kreatif, dan memposisikan peserta didik sebagai peserta didik pasif.
  4. Dalam proses belajar mengajar, peserta didik hanya bisa mendengar dan menghafal yang didengarkan.
  5. Peserta didik membutuhkan motivasi dari luar dan sangat bergantung pada guru.

Model Pembelajaran

 

  1. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-based Learning).

Model pembelajaran berbasis masalah adalah model pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran siswa pada masalah autentik sehingga siswa dapat menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuh kembangkan keterampilan yang lebih tinggi dan inquiry, memandirikan siswa dan meningkatkan kepercayaan diri sendiri (Arends dalam abbas, 2000 : 13). Model ini bercirikan penggunaan masalah kehidupan nyata sebagai sesuatu yang harus dipelajari siswa untuk melatih dan meningkatkan keterampilan berfikir kritis dan pemecahan masalah serta mendapatkan pengetahuan konsep – konsep penting, di mana tugas guru harus memfokuskan diri untuk membantu siswa mencapai keterampilan mengarahkan diri. Pembelajaran berbasis masalah, penggunaannya di dalam tingkat berfikir yang lebih tinggi, dalam situasi berorientasi pada masalah, termasuk bagaimana belajar.

  1. Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning.

Model pembelajaran kooperatif adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Slavin dalam Isjoni (2009: 15) pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya 5 orang dengan struktur kelompok heterogen. Sedangkan menurut Sunal dan Hans dalam Isjoni (2009: 15) mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan suatu cara pendekatan atau serangkaian strategi yang khusus dirancang untuk memberi dorongan kepada siswa agar bekerja sama selama proses pembelajaran. Selanjutnya Stahl dalam Isjoni (2009: 15) menyatakan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan belajar siswa lebih baik dan meningkatkan sikap saling tolong-menolong dalam perilaku sosial.

Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar (Sugiyanto, 2010: 37). Anita Lie (2007: 29) mengungkapkan bahwa model pembelajaran cooperative learning tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok.

  1. Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-based Learning).

Proyek adalah tugas yang kompleks, berdasarkan tema yang menan tang, yang melibatkan siswa dalam mendesain, memecahkan masalah, mengambil keputusan, atau kegiatan investigasi; memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja dalam periode waktu yang telah dijadwalkan dalam menghasilkan produk (Thomas, Mergendoller, and Michaelson, 1999). Proyek terurai menjadi beberapa jenis. Stoller (2006) mengemukakan tiga jenis proyek berdasarkan sifat dan urutan kegiatannya, yaitu: (1) proyek terstruktur, ditentukan dan diatur oleh guru dalam hal topik, bahan, metodologi, dan presentasi; (2) proyek tidak terstruktur didefinisikan terutama oleh siswa sendiri; (3) proyek semi-terstruktur yang didefinisikan dan diatur sebagian oleh guru dan sebagian oleh siswa.

Pembelajaran Berbasis Proyek sebagai pembelajaran yang menggunakan Proyek sebagai media dalam proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan. Penekanan pembela -jaran terletak pada aktivitas-aktivitas siswa untuk menghasilkan produk dengan menerapkan keterampilan meneliti, menganalisis, membuat, sampai dengan mempresentasikan produk pembelajaran berdasarkan pengalaman nyata. Produk yang dimaksud adalah hasil Proyek berupa barang atau jasa dalam bentuk desain, skema, karya tulis, karya seni, karya teknologi/prakarya, dan lain-lain. Melalui penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek, siswa akan berlatih merencanakan, melaksanakan kegiatan sesuai rencana dan menampilkan atau melaporkan hasil kegiatan. Bentuk aktivitas proyek terdiri dari (1) Proyek produksi yang meli batkan penciptaan seperti buletin, video, program radio, poster, laporan tertulis, esai, foto, surat-surat, buku panduan, brosur, menu banquet, jadwal perjalanan, dan sebagainya; (2) Proyek kinerja seperti pementasan, presentasi lisan, pertunjukan teater, pameran makanan atau fashion show ; (3) Proyek organisasi seperti pembentukan klub, kelompok disku-si, atau program-mitra percakapan. Lebih lanjut, menurut Fried-Booth (2002) ada dua jenis proyek yaitu (1) Proyek skala kecil atau sederhana yang hanya menghabiskan dua atau tiga pertemuan. Proyek ini hanya dilakukan di dalam kelas; (2) Proyek skala penuh yang membutuhkan kegiatan yang rumit di luar kelas untuk menyelesaikannya dengan rentang waktu lebih panjang.

  1. Model Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching).

Model pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching And Learning / CTL) merupakan suatu konsepsi yang membantu guru dalam proses pembelajaran dengan mengaitkan konten mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan motivasi siswa yang membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, masyarakat, warga Negara dan tenaga kerja Menurut Elaine B. Johnson (Riwayat,2008), CTL juga merupakan sebuah sistem yang merangsang otak untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan makna dengan menghubungakan muatan akademis dengan konteks dari kehidupan sehari-hari siswa.

Belajar dapat terjadi dengan proses mengalami. Siswa dapat belajar dengan baik jika dihadapkan dengan masalah aktual, sehingga dapat menemukan kebutuhan real dan minatnya.[1] CTL didesain dengan melibatkan siswa mengalami dan menerapkan apa yang diajarkan dengan mengacu pada masalah-masalah dunia nyata yang berhubungan dengan peran dan tanggung jawab mereka sebagai anggota keluarga, masyarakat, warga negara dan tenaga kerja. Hal ini memungkinkan siswa mengaitkan, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan ketrampilan akademik mereka dalam memecahkan masalah-masalah dunia nyata atau masalah-masalah yang stimulisasi. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa pembelajaran kontekstual (CTL) adalah pembelajaran yang memiliki hubungan yang erat dengan pengalaman yang sesungguhnya. Dan ini merupakan suatu proses kompleks dan banyak fase yang berlangsung jauh melampaui drill-oriented dan metodologi stimulus-response.

  1. Model Pembelajaran Inkuiri.

Inkuiri yang dalam bahasa Inggris inquiry, berarti pertanyaan, atau pemeriksaan, penyelidikan (Gulo, 2004:84). Beberapa pendapat tentang model pembelajaran inkuiri, antara lain menurut Widja (1989:48) model pembelajaran inkuiri adalah suatu Model yang menekankan pengalaman-pengalaman belajar yang mendorong siswa dapat menemukan konsep-konsep dan prinsip.

Selanjutnya, Sumantri (1999:164) menyatakan bahwa model pembelajaran inkuiri adalah cara penyajian pelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan informasi dengan atau tanpa bantuan guru. Model pembelajaran inkuiri adalah porses belajar yang memberi kesempatan pada siswa untuk menguji dan menafsirkan problem secara sistematika yang memberikan konklusi berdasarkan pembuktian (Nasution, 1992:128). Lebih lanjut dikatakan Model pembelajaran inkuiri adalah suatu proses untuk memperoleh dan mendapatkan informasi dengan melakukan observasi dan atau eksperimen untuk mencari jawaban atau memecahkan masalah terhadap pertanyaan atau rumusan masalah dengan menggunakan kemampuan berpikir kritis dan logis. Model atau pendekatan pembelajaran inkuiri merupakan salah satu bentuk pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered approach). Ciri utama yang dimiliki oleh pendekatan inkuiri yaitu menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan (menempatkan siswa sebagai subjek belajar), seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self belief) serta mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental (Wina Sanjaya, 2009: 196-197).

  1. Model Pembelajaran Pencapaian Konsep (Concept Learning).

Model pembelajaran Pencapaian Konsep ini berangkat dari studi mengenai proses berfikir yang dilakukan Bruner, Goodnow, dan Austin (dalam Suherman dan Winataputra, 1992) yang menyatakan bahwa model ini dirancang untuk membantu mempelajari konsep-konsep yang dapat dipakai untuk mengorganisasikan informasi sehingga dapat memberi kemudahan bagi mereka untuk mempelajari konsep itu dengan cara efektif, menganalisis, serta mengembangkan konsep. Pengertian Model Pencapaian Konsep ini juga merupakan model yang efisien untuk menyajikan informasi yang terorganisasikan dalam berbagai bidang studi, salah satu keunggulan dari model pencapaian konsep ini adalah meningkatkan kemampuan untuk belajar dengan cara yang lebih mudah dan lebih efektif.

Eggen dan Kauchak (2012: 218) menyatakan model pencapaian konsep adalah model pembelajaran yang dirancang untuk membantu siswa dari semua usia mengembangkan dan menguatkan pemahaman mereka tentang konsep dan mempraktikkan kemampuan berpikir kritis. Pada model pembelajaran ini, siswa tidak disediakan rumusan suatu kosep, tetapi mereka menemukan konsep tersebut berdasarkan contoh-contoh yang memiliki penekanan-penekanan terhadap ciri dari konsep itu. Pada pembelajaran peraihan konsep ini, guru menunjukkan contoh dan noncontoh dari suatu konsep yang dibayangkan. Sementara siswa membuat hipotesis tentang apa kemungkinan konsepnya, menganalisis hipotesis-hipotesis mereka dengan melihat contoh dan noncontoh, yang pada akhirnya sampai pada konsep yang dimaksud.

Ada dua hal penting dalam pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran pencapaian konsep yaitu:

    1. Menentukan Tingkat Pencapaian Konsep Tingkat pencapaian konsep (concept attainment) yang diharapkan dari siswa sangat tergantung pada kompleksitas dari konsep, dan tingkat perkembangan kognitif siswa. Ada siswa yang belajar konsep pada tingkat konkret rendah atau tingkat identitas, ada pula siswa yang mampu mencapai konsep pada tingkat klasifikatori atau tingkat formal.
    2. Analisis Konsep Analisis konsep merupakan suatu prosedur yang dikembangkan untuk membantu guru dalam merencanakan urutan-urutan pengajaran pencapaian konsep. Untuk melakukan analisis konsep guru hendaknya memperhatikan beberapa hal antara lain: (1) nama konsep, (2) attribute-attribute kriteria dan attribute-attribute variabel dari konsep, (3) definisi konsep, (4) contoh-contoh dan noncontoh dari konsep, dan (5) hubungan konsep dengan konsep-konsep lain.

Senin, 18 September 2023

Teori Belajar Humanistik

 Adapun pengertian teori belajar humanistik menurut para ahli adalah sebagai berikut.

1. Arthur Combs

Arthur Combs seorang pendidik sekaligus psikolog asal Ohio, Amerika Serikat. Beliau merupakan salah satu tokoh yang ikut berperan pada sejarah teori belajar humanistik. 

Combs berpendapat bahwa belajar merupakan kegiatan yang bisa dilakukan di mana saja dan menghasilkan sesuatu bagi dirinya. Pada kegiatan belajar, seseorang bahkan guru tidak boleh memaksakan sesuatu hal yang tidak disukai oleh individu yang bersangkutan.

2. Abraham Maslow

Menurut Maslow, belajar merupakan serangkaian proses yang harus dilalui untuk mengaktualisasi dirinya. Pada kegiatan belajar, diharapkan seorang individu bisa memahami dirinya dengan baik.

3. Carl Rogers

Menurut Rogers, pada proses belajar dibutuhkan sikap saling menghargai dan tanpa prasangka antara individu yang sedang belajar dan pihak yang memberi pembelajaran.

Adapun manfaatnya adalah sebagai berikut.

  1. Mampu mengubah sikap atau perilaku individu, dari yang awalnya tidak baik karena belum mengetahui menjadi baik.
  2. Membiasakan individu untuk berlaku secara demokratis, partisipatif, dan humanis.
  3. Mampu menjadikan individu sebagai insan yang mudah menghargai perbedaan, kebebasan berpendapat, dan kebebasan dalam menyatakan ide/gagasan.
  4. Mampu meningkatkan keinginan belajar individu.

Suatu teori belajar dikatakan humanistik jika memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

  1. Menekankan pada aktualisasi diri individu (manusia sebagai sosok individu yang bisa mengeksplorasi dirinya).
  2. Proses merupakan hal penting yang menjadi fokus belajar.
  3. Melibatkan peran aspek kognitif dan afektif.
  4. Mengedepankan pengetahuan atau pemahaman.
  5. Mengedepankan bentuk perilaku diri sendiri.
  6. Tidak ada yang berhak mengatur proses belajar setiap individu.

 

Adapun langkah-langkah pembelajaran menurut teori belajar humanistik secara umum, yaitu: 

  1. Menentukan tujuan-tujuan pembelajaran dan materi pelajaran.
  2. Mengidentifikasi kemampuan awal (entry behavior).
  3. Mengidentifikasi topik-topik pembelajaran yang memungkinkan peserta didik secara aktif melibatkan diri atau mengalami dalam belajar.
  4. Merancang fasilitas belajar, seperti pengadaan lingkungan kelas yang kondusif dan media pembelajaran.
  5. Membimbing peserta didik belajar secara aktif.
  6. Membimbing peserta didik untuk memahami hakikat dan makna dari pengalaman belajarnya sendiri.
  7. Membimbing peserta didik membuat konseptualisasi pengalaman belajarnya.
  8. Membimbing peserta didik dalam mengaplikasikan komponen-komponen baru ke situasi nyata.
  9. Mengevaluasi proses dan hasil belajar.

 

Kelebihan Teori belajar humanistik

  1. Tingkat keberhasilan atau indikator penilaian dari teori belajar ini adalah peserta didik merasa senang dalam belajar, dan terjadi perubahan terhadap tingkah laku serta pola pikir, bukan karena paksaan atau keinginan sendiri.
  2. Apabila proses belajar mengajar mengutamakan pembentukan kepribadian, perubahan tingkah laku, dan hati nurani, maka teori belajar humanistik sangat sesuai untuk diterapkan.
  3. Dengan teori ini, peserta didik diharapkan menjadi manusia yang bisa mengatur dirinya sendiri dan menjadi pribadi yang tidak terikat oleh pendapat orang lain tanpa harus merugikan atau mengambil hak-hak orang lain.

Kekurangan Teori belajar humanistik

Kekurangan yang ada pada teori belajar humanistik berada pada diri peserta didik itu sendiri. Maksudnya, peserta didik yang tidak mau mengerti akan potensi dirinya, maka peserta didik itu akan tertinggal dalam proses belajar mengajar.

Teori Belajar Kognitif

 

Adapun pengertiannya menurut para ahli adalah sebagai berikut.

  1. Menurut Williams dan Susanto, yaitu cara individu bertingkah laku, bertindak, dan cepat lambatnya individu saat memecahkan masalah yang sedang dihadapi.
  2. Menurut Neisser, yaitu perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan.
  3. Menurut Gagne, yaitu proses internal yang terjadi di dalam pusat susunan saraf ketika manusia sedang berpikir.
  4. Menurut Drever, yaitu istilah umum yang melingkupi metode pemahaman, yakni persepsi, penilaian, penalaran, imajinasi, dan penangkapan makna.
  5. Menurut Piaget, yaitu bagaimana anak beradaptasi dan menginterpretasikan objek dan kejadian-kejadian di sekitarnya.

Prinsip teori belajar kognitif dalam pembelajaran adalah sebagai berikut.

  1. Proses belajar lebih penting daripada hasil.
  2. Persepsi dan pemahaman dalam mencapai tujuan belajar menunjukkan tingkah laku seorang individu.
  3. Materi belajar dipisahkan menjadi komponen kecil, lalu dipelajari secara terpisah.
  4. Keaktifan peserta didik saat pembelajaran merupakan suatu keharusan.
  5. Pada kegiatan belajar, dibutuhkan proses berpikir yang kompleks.

 

Langkah-langkah pembelajaran menurut teori belajar kognitif secara umum, yaitu sebagai berikut.

  1. Menentukan tujuan pencapaian kompetensi,
  2. Memilih materi pelajaran,
  3. Menentukan topik-topik yang akan dibahas peserta didik, misalnya penelitian, memecahkan masalah, diskusi, simulasi, dan sebagainya.
  4. Mencari contoh-contoh materi, tugas, ilustrasi, dan contoh lainnya yang dapat digunakan peserta didik untuk bahan belajar,
  5. Mengembangkan metode pembelajaran untuk merangsang kreatifitas dan cara berfikir peserta didik.
  6. Mengatur topik yang dipelajari peserta didik dari konsep yang paling konkret ke yang abstrak, hingga dari yang sederhana ke kompleks, dan
  7. Mengevaluasi proses dan hasil belajar.

 

Kelebihan Teori Kognitif

  1. Memudahkan peserta didik untuk memahami materi belajar.
  2. peserta didik menjadi mandiri dan lebih kreatif.

Kekurangan Teori Kognitif

  1. Teori belajar kognitif belum bisa digunakan pada semua tingkat pendidikan.
  2. Pada pendidikan tingkat lanjut, teori belajar kognitif masih sulit untuk diterapkan.

Teori Belajar Konstruktivisme

 

Konstruktivisme adalah pendekatan yang menunjukkan bahwa pembelajaran lebih efektif dan bermakna ketika siswa mampu berinteraksi dengan masalah atau konsep.

Contoh pembelajaran dengan menggunakan prinsip teori belajar konstruktivisme adalah gagasan pembelajaran bahasa kolaboratif, pembelajaran berbasis proyek

Ciri khas dari karakteristik konstruktivisme yaitu;

(1) belajar aktif

(2) bersifat otentik dan situasional

(3) menarik dan menantang

(4) pengaitan pengetahuan lama dengan informasi baru

(5) merefleksikan pengetahuan

(6) guru dapat memberi bantuan dalam menempuh proses belajar

 

Prinsip-prinsip konstruktivisme lainnya adalah:

 1) pengetahuan dibangun oleh siswa secara aktif,

 2) tekanan dalam proses belajar terletak pada siswa,

 3) mengajar adalah membantu siswa belajar

 4) tekanan dalam proses belajar lebih pada proses bukan pada hasil akhir

 5) kurikulum menekankan partisipasi siswa

Tujuan konstruktivisme yaitu:

1) Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengajukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyanya

2) Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap

3) Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri (Thobroni, 2015:95)

Cara Belajar Konstruktivisme

Berikut langkah-langkah pembelajaran menurut teori belajar sosial konstruktivisme secara umum.

  1. Kegiatan Awal
    1. Guru mengkondisikan peserta didik untuk siap memulai pembelajaran
    2. Guru melakukan apersepsi, lalu memberikan motivasi kepada peserta didik untuk dapat terus mengikuti pembelajaran
    3. Mengajukan suatu konteks permasalahan
    4. Kegiatan Inti
    5. Setelah peserta didik memahami konteks permasalahan, kemudian peserta didik diberi lembar kegiatan
    6. Pada 15 menit pertama peserta didik diberikan kesempatan untuk menelaah dan menyelesaikan jawaban secara individual.
    7. Kemudian ±25 menit selanjutnya peserta didik diminta untuk menyelesaikan jawaban secara berkelompok heterogen (2-4 orang). Hal ini bertujuan agar peserta didik dapat saling berinteraksi dan bertukar pemikiran. Secara tidak langsung dalam kegiatan ini intervensi dapat terjadi antara peserta didik dengan peserta didik lain di dalam satu kelompok.
    8. Disamping itu, guru juga bisa menerapkan teknik scaffolding dengan tepat selama proses kegiatan mengajar berlangsung
    9. Perwakilan kelompok mempresentasikan hasil pekerjaan mereka.
  2. Kegiatan Akhir
    1. Guru dan peserta didik bersama-sama menyimpulkan materi pelajaran yang telah dipelajari,
    2. Guru menutup pembelajaran.
  3. Kelebihan Teori belajar sosial konstruktivisme

    1. Dalam proses belajar mengajar guru dapat mengajarkan para peserta didik untuk mengeluarkan ide-idenya atau gagasannya dan melatihnya agar bisa mengambil keputusan.
    2. Semua peserta didik lebih mudah mengingat pelajaran yang sudah diajarkan, karena mengikuti proses belajar mengajar secara langsung dan aktif.
    3. Pengulangan pelajaran yang dilakukan secara berulang akan membuat peserta didik lebih mudah untuk berinteraksi dan yakin bisa memahami pelajarannya.
    4. Ketika proses belajar mengajar, peserta didik akan lebih mudah beradaptasi dengan lingkungannya dan mendapatkan pengetahuan baru. Misalnya berinteraksi dengan teman-temannya dan guru.
    5. Pengetahuan yang diterima oleh peserta didik akan mudah diterapkan dalam kehidupannya.

    Kekurangan Teori belajar sosial konstruktivisme

    1. Teori sosial konstruktivisme lebih susah untuk dimengerti, karena ruang lingkupnya yang lebih luas.
    2. Tugas guru menjadi tidak maksimal, karena peserta didik diberi kebebasan lebih banyak.


Minggu, 10 September 2023

LATIHAN UJIAN SEKOLAH 2024



Untuk memantapkan persiapan kalian menghadapi ujian sekolah...

Silahkan dikerjakan..

Semangat..

LATIHAN UJIAN SEKOLAH 1

LATIHAN UJIAN SEKOLAH 2

LATIHAN UJIAN SEKOLAH 3



Senin, 04 September 2023

BELAJAR ASYIK BERSAMA QUIZIZZ..




Mari mainkan....
Silahkan klik

Mari bergabung di https://quizizz.com/join
kode   :6914 9000




 

Minggu, 03 September 2023

Sabtu, 02 September 2023

Soal dan kunci jawaban post test modul 2 Gizi Remaja SMP [Kemitraan dengan UNICEF]

 

Masalah gizi yang banyak ditemui pada remaja adalah

Anemia

Obesitas

Kurus

Semua benar

Soal dan kunci jawaban post test modul 1 Gizi Remaja SMP [Kemitraan dengan UNICEF]

 

Mengapa asupan gizi remaja penting untuk diperhatikan? (pilih yang tepat)

Remaja merupakan fase pertumbuhan yang pesat

Remaja sedang mengalami pubertas

Remaja membutuhkan banyak energi untuk belajar dan beraktivitas

Semua pernyataan benar