1. Perubahan iklim meningkatkan potensi bencana. Apa bentuk strategi PRB yang dapat membantu sekolah mengantisipasi hal ini?
A. Membatasi kegiatan peserta didik di luar ruangan
B. Menyusun kebijakan darurat yang tidak berubah sepanjang tahun
C. Menyesuaikan jadwal simulasi dengan musim bencana dan memperkuat kapasitas peserta didik
D. Memindahkan sekolah ke wilayah bebas bencana
2. Sekolah A memiliki ancaman banjir, memiliki jalur evakuasi yang sempit, dan guru belum pernah dilatih PRB. Apa dua komponen risiko utama yang perlu segera diperbaiki?
A. Ancaman dan kapasitas
B. Kerentanan dan kapasitas
C. Ancaman dan kerentanan
D. Kerentanan dan anggaran
3. Sekolah ingin menerapkan PRB secara menyeluruh. Strategi mana yang paling efektif untuk melibatkan peserta didik dalam proses ini?
A. Menugaskan peserta didik membaca modul kebencanaan di rumah
B. Melibatkan peserta didik dalam simulasi dan kajian risiko sekolah
C. Melarang peserta didik bermain di luar kelas
D. Menempatkan guru piket setiap hari
4. Dalam proses pemetaan risiko, mengapa penting menggali informasi dari peserta didik dan tenaga kependidikan?
A. Karena mereka perlu mengisi kuosioner sekolah
B. Karena mereka tahu informasi teknis tentang bangunan sekolah
C. Karena mereka memjadi bagian dari suber data langsung yang memahami keseharian berdasarkan pengalaman
D. Karena mereka dapat membandingkan dengan sekolah lain
5. Rencana aksi SPAB harus merujuk pada hasil kajian risiko. Mengapa demikian?
A. Supaya rencana aksi tidak perlu disosialisasikan ulang
B. Agar setiap tindakan dapat ditelusuri ke siapa penanggung jawabnya
C. Karena hasil kajian risiko mencerminkan kebutuhan nyata dan berbasis data sekolah
D. Karena itu arahan langsung dari kementerian
6. Apa indikator bahwa peta risiko sekolah sudah menggambarkan situasi aktual dan berguna?
A. Terdapat banyak warna dan simbol menarik
B. Peta hanya dibuat oleh kepala sekolah dan dikirim ke dinas
C. Warga sekolah dapat mengidentifikasi area aman dan berisiko berdasarkan peta
D. Peta dipasang di ruang guru saja
7. Apa yang paling mencerminkan struktur ideal Tim Siaga Bencana Sekolah (TSBS)?
A. Terdiri dari guru dan kepala sekolah saja
B. Diisi oleh tenaga kependidikan senior
C. Representatif, inklusi dan memiliki pembagian peran jelas
D. Dibentuk oleh dinas tanpa melibatkan warga
8. Apa risiko jika POS kedaruratan disusun tanpa partisipasi warga sekolah?
A. Tidak ada risiko karena POS kedaruratab hanya untuk guru
B. POS kedaruratan menjadi terlalu panjang
C. POS kedaruratan sulit dipahami dan tidak dijalankan secara efektif saat bencana
D. POS kedaruratan tidak perlu diperbaharui secara berkala
9. Apa indikator bahwa latihan POS kedaruratan berjalan efektif?
A. Seluruh warga sekolah tahu perannya dan dapat merespon dengan tepat saat simulasi
B. Simulasi dilakukan secara diam-diam
C. Peserta didik mencatat waktu pelaksanaan latihan
D. Pelaksanaan hanya dilakukan oleh tim siaga
10. Mengapa penting memiliki tahapan yang jelas dalam perencanaan simulasi?
A. Agar sekolah mendapatkan penghargaan
B. Untuk memastikan koordinasi, kesiapan logistik dan efektivitas pelaksanaan
C. Karena merupakan syarat administrasi
D. Supaya tidak mengganggu pelajaran
11. Mengapa simulasi tertutup perlu dilakukan secara berkala?
A. Untuk menguji kesiapan spontan seluruh warga sekolah
B. Supaya warga sekolah tidak bosan dengan rutinitas
C. Agar peserta didik tidak mengetahui skenario bencana
D. Karena lebih murah daripada simulasi terbuka
12. Apa nilai tambah dari pelaksanaan simulasi bencana secara rutin di sekolah?
A. Mengisi waktu kegiatan luar kelas
B. Meningkatkan kesiapsiagaan nyata warga sekolah
C. Memberikan pengalaman bermain bagi peserta didik
D. Menyempurnakan program ekstrakurikuler