Minggu, 07 Januari 2024

18 Rencana Hasil Kerja Yang Dapat Guru Pilih Untuk Memenuhi Minimal 32 Poin Kinerja,

 

Platform Merdeka Mengajar (PMM) telah meluncurkan fitur baru yang memungkinkan fitur pengelolaan kinerja guru dan kepala sekolah secara lebih efektif mulai dari bulan Januari 2024. Fitur ini akan terhubung langsung dengan E-Kinerja, bagian dari sistem informasi Aparatur Sipil Negara (ASN) yang dioperasikan oleh Badan Kepegawaian Negara (BKN).

Perencanaan Pengembangan Kompetensi dianjurkan memiliki rentang poin minimum antara 32 dan 128 dalam satu semester sesuai dengan Perdirjen GTK Nomor 7607/B.B1/HK.03/2023.

Poin tersebut diperoleh dalam memilih Rencana Hasil kinerja yang efektif dan berdampak bagi diri sendiri, komunitas pendidikan, maupun Satuan Pendidikan.

Berikut ini panduan yang dapat anda gunakan dalam menghitung poin tahap pengembangan kompetensi.

 

1.    Meningkatnya kompetensi melalui peran sebagai peserta pelatihan mandiri sesuai modul kompetensi Guru, Kepala Sekolah, dan atau pengawas sekolah. 1 Pelatihan serta aksi nyata setara dengan 8 poin, dibuktikan dengan sertifikat topik.

    

3.    Meningkatnya kompetensi melalui peran sebagai Penggerak komunitas belajar dengan mengadakan minimal 3 kegiatan berbagi praktik baik. 3 kegiatan setara dengan 36 poin, dibuktikan dengan sertifikat.

4.    Meningkatnya kompetensi melalui peran sebagai Narasumber berbagi praktik baik dalam kegiatan yang terkait implementasi Kurikulum Merdeka dan atau Perencanaan Berbasis Data. 1 Kegiatan berdurasi 2- 3 jam setara dengan 8 poin, dibuktikan dengan sertifikat.

5.    Meningkatnya kompetensi melalui peran sebagai Peserta berbagai praktik baik yang diselenggarakan komunitas belajar. 1 kegiatan berdurasi 2- 3 jam setara dengan 4 Poin, dibuktikan dengan sertifikat.

6.    Meningkatnya kompetensi melalui peran sebagai Peserta Program pelatihan dan pendidikan jangka pendek atau menengah pada bidang kepemimpinan dan bidang teknis yang relevan seperti Pendidikan Guru Penggerak atau Pelatihan Manajerial Kepala Sekolah. 1 kegiatan berdurasi 3- 6 bulan setara dengan 128 poin, dibuktikan dengan sertifikat

7.    Meningkatnya kompetensi melalui peran sebagai Peserta kegiatan pelatihan atau bimbingan teknis yang memperoleh sertifikat di bidang pendidikan, kebudayaan, riset dan teknologi. 1 Kegiatan berdurasi 2- 3 hari setara 8 poin , dibuktikan dengan sertifikat.

8.    Meningkatnya kompetensi melalui peran sebagai peserta praktek magang pada dua kerja atau bidang lain yang relevan. 1 Kegiatan berdurasi  2- 4 minggu setara dengan 24 poin, dibuktikan dengan sertifikat

9.    .Meningkatnya kompetensi melalui peran sebagai Partisipan kegiatan seminar lokakarya konferensi, simposium dan atau studi banding lapangan yang diselenggarakan di bidang pendidikan. 1 kegiatan setara dengan 4 poin, dibuktikan dengan sertifikat.

10.Meningkatnya kompetensi melalui peran sebagai Peraih pengakuan atau penghargaan terhadap kompetensi dan kinerja dalam berbagai wadah atau ajang. 1 penghargaan setara dengan 12 poin, dibuktikan dengan piagam.

 

11.  Meningkatnya kompetensi melalui peran sebagai Penelaah aksi nyata sejawat yang dihasilkan Guru dan/atau Kepala Sekolah lain. 10 Aksi Nyata setara 6 poin, dibuktikan dengan Laporan.

12.  Meningkatnya kompetensi melalui peran sebagai Penelaah cerita praktik yang dihasilkan Guru dan/atau Kepala Sekolah lain. 10 Cerita Praktik setara 6 poin, dibuktikan dengan Laporan.

  1. Meningkatnya kompetensi melalui peran sebagai Penelaah perangkat ajar yang dihasilkan Guru dan/atau Kepala Sekolah lain. 10 Perangkat Ajar setara 6 poin, dibuktikan dengan Laporan.
  2. Meningkatnya kompetensi melalui peran sebagai Penyusun cerita praktik yang dapat dibagikan kepada Guru dan/atau Kepala Sekolah lain.1 Cerita Praktik yang terbit di PMM setara 12 poin, dibuktikan dengan Cerita Praktik yang terbit di PMM.
  3. Meningkatnya kompetensi melalui peran sebagai Penyusun perangkat ajar yang dapat dibagikan kepada Guru dan/atau Kepala Sekolah lain.1 Perangkat Ajar yang terbit di PMM setara 24 poin, dibuktikan dengan Perangkat Ajar yang terbit di PMM.
  4. Meningkatnya kompetensi melalui peran sebagai Penyusun kumpulan konten unggulan yang dapat dibagikan kepada Guru dan/atau Kepala Sekolah lain. 1 Kumpulan Konten Unggulan yang terbit di PMM setara 6 poin, dibutikan dengan Kumpulan Konten Unggulan yang terbit di PMM.

17.  Meningkatnya kompetensi melalui peran sebagai Coach, mentor, fasilitator, dan/atau pengajar praktik dalam kegiatan pengembangan kompetensi kepada Guru, Kepala Sekolah, dan/atau pengawas sekolah. 1 kegiatan berdurasi 2-3 jam setara 12 poin dibuktikan dengan Sertifikat.

18.  Meningkatnya kompetensi melalui peran sebagai Peserta coaching atau mentoring pengembangan kompetensi oleh Guru, Kepala Sekolah, dan/atau pengawas sekolah. 1 kegiatan setara 4 poin, dibutikan dengan Sertifikat.

Semoga bermanfaat

 

Sabtu, 06 Januari 2024

Memanfaatkan Platfrom Rapor Pendidikan Sebagai Evaluasi Mutu Sekolah

Platform Rapor Pendidikan adalah aplikasi berbasis web yang digunakan untuk menampilkan profil dan Rapor pendidikan dari Satuan Pendidikan atau Dinas Pendidikan

Platform Rapor Pendidikan adalah pengganti atau penyempurnaan dari Rapor Mutu, di mana indikatornya disusun berdasarkan input, proses, dan output pendidikan. Dalam Platform Rapor Pendidikan satuan pendidikan tidak melakukan pengisian data langsung ke dalam instrumen, melainkan data diambil dari sistem yang sudah ada, termasuk dari Asesmen Nasional, Data Pokok Pendidikan (Dapodik), Sistem Informasi Manajemen Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (SIMPKB), Badan Pusat Statistik (BPS), dan sumber lain yang relevan

Manfaat Platform Rapor Pendidikan

Platform Rapor Pendidikan dapat dijadikan sebagai:

1. Referensi utama sebagai dasar analisis, perencanaan, dan tindak lanjut peningkatan kualitas pendidikan

2. Satu-satunya platform untuk melihat hasil Asesmen Nasional

3. Sumber data yang objektif dan andal di mana laporan disajikan secara otomatis dan terintegrasi

4. Instrumen pengukuran untuk evaluasi sistem pendidikan secara keseluruhan baik untuk evaluasi internal maupun eksternal

5. Alat ukur yang berorientasi pada mutu dan pemerataan hasil belajar (output)

6. Platform penyajian data yang terpusat. Satuan pendidikan tidak,perlu menggunakan beragam aplikasi sehingga diharapkan dapat meringankan beban administrasi


Melalui Rapor Pendidikan ini satuan pendidikan dimudahkan memiliki data hasil evaluasi. Kemudian karena terintegrasi, jadi semua aktivitas satuan pendidikan bisa digunakan secara komprehensif, sehingga diharapkan pendidikan di sekolah terencana dengan baik menggunakan basis data

Dari hasil ANBK, para pengambil kebijakan bisa merancang strategi intervensi, misal intervensi khusus untuk literasi membaca adalah murid yang belum mampu menemukan dan mengambil informasi ekspresif yang ada dalam teks, ataupun membuat interpretasi sederhana.
Kemudian murid yang kemampuannya masih di tingkat dasar adalah murid yang mampu menemukan dan mengambil informasi eksplisit yang ada dalam teks, serta membuat interpretasi sederhana.

Kamis, 04 Januari 2024

ASPEK-ASPEK LITERASI MATEMATIKA PADA KURIKULUM MERDEKA

 

The Organization for Economic Cooperation and Development (OECD,2017) menyebutkan bahwa definisi literasi matematika dapat dianalisis dalam tiga aspek yang saling berkaitan

A.      Proses

Proses matematika mendeskripsikan apa yang seseorang lakukan untuk menghubungkan konteks permasalahan dengan matematika, kemudian menyelesaikan masalah

Meliputi

a.Formulating

Siswa dapat merumuskan permasalahan dalam bentuk matematika

b. Employing

Siswa dapat menggunakan konsep, fakta, prosedur dan penalarannya untuk menjawab permasalahan.

c.Interpreting

Siswa dapat menginterpretasikan, menerapkan, dan mengevaluasi permasalahan

Dalam aspek proses, terdapat tujuh kemampuan yang mendasarinya, yaitu:

d.Communication

Literasi matematika melibatkan kemampuan untuk mengomunikasikan masalah. Siswa merasakan adanya tantangan, kemudian didorong untuk mengenali dan memahami situasi masalah untuk melakukan proses penyelesaian masalah. Setelah solusi ditemukan, siswa perlu menyajikan solusinya disertai penjelasan kepada orang lain.

e.Mathematising

Literasi matematika melibatkan transformasi masalah nyata dalam bentuk matematika (mencakup penataan, konseptualisasi, pembuatan asumsi, dan perumusan model), atau menafsirkan atau mengevaluasi hasil matematis atau model matematika

f.Representation

Literasi matematika melibatkan representasi objek dan situasi matematika. Hal ini dapat berarti memilih, menafsirkan, dan menggunakan berbagai representasi untuk memahami dan berinteraksi dengan masalah, serta menyajikan kembali suatu penyelesaian. Representasi meliputi grafik, tabel, diagram, gambar, persamaan, formula dan benda konkrit

g.Reasoning and Argument

Kemampuan ini melibatkan proses pemikiran logis yang mengeksplorasi dan menghubungkan elemen-elemen masalah untuk menghasilkan suatu kesimpulan, serta memberikan alasan atas pernyataan atau solusi masalah

h.Devising Strategies for Solving Problems

Literasi matematika sering membutuhkan strategi untuk memecahkan masalah secara matematis. Strategi ini melibatkan serangkaian proses yang membimbing seseorang untuk secara efektif mengenali, merumuskan dan memecahkan masalah

i.Using Symbolic, Formal and Technical  Langauge and Operation

Kemampuan literasi matematika membutuhkan penggunaan bahasa dan operasi simbolis, formal dan teknis, serta melibatkan pemahaman, interpretasi, manipulasi, dan penggunaan ekspresi simbolis dalam konteks matematika (termasuk ekspresi dan operasi aritmatika)

j.Using Mathematic Tools

Alat-alat matematika meliputi alat fisik, seperti alat ukur, kalkulator dan alat berbasis komputer. Selain mengetahui cara menggunakan alat ini untuk membantu menyelesaikan tugas matematika, siswa perlu mengetahui keterbatasan alat tersebut. Alat matematika juga bisa berperan penting dalam mengkomunikasikan hasil

B.      isi

Isi matematika ditargetkan untuk digunakan dalam item-item penilaian.

Berikut adalah empat kategori dalam konten matematika dalam PISA

a.Change and Relationship  (Perubahan dan Hubungan)

Aspek dari konten matematika seperti fungsi dan aljabar, termasuk ekspresi aljabar, persamaan dan ketidaksetaraan, representasi tabular dan grafis, sangat penting dalam menggambarkan, memodelkan dan menafsirkan fenomena perubahan. Representasi data dan hubungan yang digambarkan menggunakan statistika juga sering digunakan untuk menggambarkan dan menafsirkan perubahan dan hubungan

b.Space and Shape  (Ruang dan Bentuk)

Ruang dan bentuk mencakup berbagai fenomena yang dihadapi di dunia visual dan fisik seperti pola, sifat objek, posisi dan orientasi, representasi objek, decoding dan pengkodean informasi visual, navigasi dan interaksi dinamis. Geometri berfungsi sebagai landasan penting  untuk ruang dan bentuk

c.Quantity (Kuantitas)

Kuantitas menggabungkan kuantifikasi atribut objek, hubungan, situasi dan entitas di dunia, memahami berbagai representasi dari kuantifikasi tersebut, dan menilai interpretasi dan argumen berdasarkan kuantitas. Kuantitas melibatkan pengukuran, pemahaman, jumlah, besaran, unit, indikator, ukuran relatif, serta tren dan pola numerik

d.Uncertainty and Data  (Ketidakpastian dan Data)

Ketidakpastian dan kategori konten data termasuk mengenali variasi dalam proses, ketidakpastian dan kesalahan dalam pengukuran, dan peluang.

C.      Konteks

Empat kategori konteks telah ditetapkan dan digunakan untuk mengklasifikasikan item penilaian yang dikembangkan untuk survei PISA:

a.Konteks pribadi

Masalah yang diklasifikasikan dalam kategori konteks pribadi fokus pada aktivitas seseorang, keluarga atau kelompok sebaya. Jenis konteks yang dapat dianggap termasuk pribadi meliputi permasalahan yang melibatkan persiapan makanan, belanja, permainan, kesehatan pribadi, transportasi pribadi, olahraga, perjalanan, penjadwalan pribadi dan keuangan pribadi

 

b.Konteks pekerjaan

Masalah yang dikategorikan sebagai pekerjaan melibatkan hal-hal seperti bahan pengukur, biaya dan pemesanan untuk bangunan, penggajian/akuntansi, pengendalian

 

c.Konteks masyarakat

Masalah yang diklasifikasikan dalam kategori konteks masyarakat berfokus pada komunitas (baik lokal, nasional atau global), dan melibatkan hal-hal seperti sistem pemungutan suara, transportasi umum, pemerintah, kebijakan publik, demografi, periklanan, statistik nasional dan ekonomi

 

d.Konteks ilmiah

Masalah yang tergolong dalam kategori ilmiah berhubungan dengan penerapan matematika terhadap isu dan topik yang berkaitan dengan sains dan teknologi. Konteks tertentu termasuk cuaca atau iklim, ekologi, kedokteran, ilmu antariksa, genetika, pengukuran dan dunia matematika itu sendiri

 

Sumber: workshop mengenal literasi pembelajaran matematika pada kurikulum merdeka

 

 

Senin, 01 Januari 2024

Disiplin Positif di Satuan Pendidikan

 

Disiplin  positif adalah  pendekatan yang  memampukan   seseorang, khususnya  anak,  untuk  memahami   dan  mengontrol  perilakunya dengan   kesadaran,  bertanggungjawab  atas  tindakannya   dengan tetap  menghormati  diri sendiri dan orang lain dalam  upaya  untuk menumbuhkembangkan   perilaku   positif  sepanjang  hidup.  Guru yang   sebelumnya   menjadi   polisi   atau   hakim,   berubah   peran menjadi detektifyang mempelajari  perilaku anak

Pendekatan  Disiplin  Positif  membutuhkan  kepercayaan  dan kepedulian antara pendidik dengan  peserta didik. Ada 4 komponen penting yang perlu diperhatikan, yaitu:

1.     Tahu, kenali, dan pahami perkembangan anak

2.     Memahami perilaku tidak tepat anak dari sudut pandang yang tepat

3.     Menerapkan  konsekuensi logis yang berfokus pada solusi

4.     Memberikan penguatan dan dorongan positif kepada anak

PRINSIP MEMBERIKAN  PENGUATAN DAN DORONGAN POSITIF KEPADA PESERTA DIDIK

1.     Beri penguatan pada pencapaian yang real dan spesifik

2.     Dorongan yang spesifik dan menyebutkan kebaikan

3.     Tulus

4.     Dengan emosi positif dan keikhlasan

5.     Beri respons dengan segera

 

PERBEDAAN PENERAPAN HUKUMAN DAN DISIPLIN POSITIF

Pendekatan hukuman

-Agresif dan mengandung kekerasan fisik maupun verbal

-Memaksa anak untuk mematuhi

-Tidak menghargai  potensi anak

-Hanya untuk mengendalikan  anak

-Membuat anak tertekan dan takut

-Sering mempermalukan dan melecehkan anak

-Bersifat jangka pendek

Pendekatan disiplin positif

-Mengembangkan  perilaku positif anak sesuai usianya

-Mendekatkan anak dengan guru, orang tua, orang dewasa

-Tidak mengandung kekerasan baik secara fisik maupun verbal

-Memanfaatkan kesalahan sebagai peluang untuk pembelajaran

-Anak termotivasi datang ke satuan pendidikan

-Positif dan menghargai potensi anak

-Membangun  logika, bimbingan yang membangun

-Bersifat jangka panjang

LANGKAH PENERAPAN DISIPLIN POSITIF  DI SATUAN PENDIDIKAN SECARA HOLISTIK

 

1.        Diskusikan  bersama dengan seluruh warga satuan  pendidikan  tentang disiplin positif

2.        Kaji  kembali  aturan  atau tata-tertib yang ada di satuan pendidikan,  apakah  ada  penerapan hukuman yang bertujuan  untuk mengendalikan  anak serta  bersifat memaksa?

3.        Kembangkan  mekanisme yang partisipatif dengan seluruh warga satuan  pendidikan  bila ada yang harus diperbaiki dari aturan atau tata-tertib satuan pendidikan

4.        Kembangkan  mekanisme teknis (Prosedur Operasional Standar) berkaitan dengan penanganan perilaku tidak tepat peserta didik di satuan  pendidikan,  mulai dari  alur pelaporan, pencegahan, hingga penanganan yang berisi konsekuensi  serta  pemulihan

5.        Efektifkan  media kreatif anak yang membangun pemikiran dan perilaku positif


Sumber Modul AAP (Ayo Atasi Perundungan) melalui Program Roots Indonesia