Inklusi adalah sebuah pendekatan untuk membangun lingkungan
yang terbuka untuk siapa saja dengan latar belakang dan kondisi yang
berbeda-beda, meliputi: karakteristik, kondisi fisik, kepribadian, status,
suku, budaya dan lain sebagainya. Pola pikir ini selanjutnya berkembang dengan
proses masuknya konsep tersebut dalam kurikulum di satuan pendidikan
sehingga pendidikan inklusif menjadi sebuah sistem layanan pendidikan yang
memberi kesempatan bagi setiap peserta didik untuk mendapatkan pendidikan yang
layak
Tujuan pendidikan inklusif adalah
1.
memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada
semua peserta didik yang memiliki
kelainan fisik, emosional, mental, dan sosial, atau memiliki potensi kecerdasan
dan/ atau bakat istimewa untuk memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan
kebutuhan dan kemampuannya;
2.
Mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang
menghargai keanekaragaman, dan tidak
diskriminatif bagi semua peserta didik.
Prinsip pelaksanaan pendidikan inklusif adalah
1.
bahwa semua peserta didik tanpa terkecuali dapat
belajar dan perbedaan menjadi kekuatan dalam
mengembangkan potensinya.
2.
kehadiran peserta didik berkebutuhan khusus di kelas sehingga bisa
berpartisipasi
dan diterima di lingkungan satuan pendidikan.
Dalam pelaksanaan pendidikan inklusif,
3.
penerapan kurikulum menggunakan
prinsip fleksibilitas
sehingga bisa diadaptasi sesuai
dengan kondisi, karakteristik, dan kebutuhan peserta didik
Prinsip adaptasi berarti dalam melaksanakan pendidikan inklusif, satuan pendidikan harus
memperhatikan tiga dimensi dalam melakukan proses penyesuaian, yaitu: kurikulum,
instruksional, dan lingkungan belajar (ekologis)
Adaptasi kurikulum terkait dengan penyesuaian isi, materi atau kompetensi
yang dipelajari peserta didik. Pada adaptasi kurikulum guru dapat melakukan penambahan keterampilan untuk mengganti
agar dapat menguasai kompetensi yang diharapkan
atau mengganti dengan kompetensi lain
yang setara.
Adaptasi lain yang dapat
dilakukan guru adalah dengan melakukan penyederhanaan kompetensi yang hendak
dicapai. Proses penyederhanaan tergantung pada kemampuan awal, kondisi, dan
modalitas belajar peserta didik berdasarkan hasil asesmen. Dalam proses adaptasi
kurikulum satuan pendidikan harus:
1) fleksibel dan inovatif;
2) memastikan perkembangan kebijakan sekolah inklusif;
3) membuat penyesuaian kurikulum, membuat perencanaan untuk seluruh kelas, menetapkan tujuan pengajaran yang terbuka dan jelas, menggunakan alternatif metode pengajaran, menggunakan
teknologi yang tepat, dan membuat persiapan
terlebih dahulu;
4) memastikan kemudahan lingkungan fisik dan mengembangkan lingkungan satuan pendidikan yang mendukung;
5) mengembangkan kerja sama dengan bekerja bersama dalam tim.
b. Adaptasi pembelajaran terkait cara, metode, dan strategi yang dapat digunakan guru agar peserta didik menguasai materi atau kompetensi yang ditargetkan.
Dalam hal ini guru diberikan keleluasaan dalam melakukan penyesuaian proses
pembelajaran di kelas yang beragam dengan mempertimbangkan kondisi peserta didik berkebutuhan khusus.
c. Adaptasi lingkungan belajar berkaitan dengan pengaturan suasana pembelajaran
(dimana, kapan, dan bersama siapa pembelajaran dilakukan) termasuk ketersediaan alat bantu dan sumber belajar yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Penerapan adaptasi kurikulum dan instruksional
dapat dilakukan dengan model:
a.Eskalasi/akselerasi:
program
percepatan dan perluasan dalam hal waktu dan penguasaan materi. Model ini terutama diterapkan bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa, serta memiliki kecepatan belajar yang luar biasa.
b.Duplikasi
kurikulum yang digunakan untuk PDBK sama dengan kurikulum yang digunakan peserta didik pada umumnya yang non-PDBK. Mungkin hambatan yang dialami tidak terlalu berat sehingga masih dapat mengikuti kurikulum yang berlaku di satuan pendidikan tersebut.
c.Simplikasi atau modifikasi
kurikulum umum dimodifikasi, disederhanakan tanpa harus menghilangkan substansi, dan disesuaikan
dengan kebutuhan dan kemampuan PDBK. Modifikasi dan penyederhanaan kurikulum
dapat dilakukan dalam salah satu atau lebih dari hal-hal berikut, yaitu tujuan, isi, metode
dan cara penilaian.
d.Substitusi
beberapa bagian dari kurikulum umum diganti dengan sesuatu yang
kurang lebih setara. Contoh kegiatan menggambar tidak perlu diberikan bagi anak dengan hambatan penglihatan, diganti dengan kegiatan lain yang setara, misalnya menyanyi, atau membuat patung dari bahan yang lunak. Contoh lain anak dengan hambatan pendengaran, mungkin tidak perlu mengikuti pelajaran ‘listening comprehension’ dan dapat
digantikan dengan kegiatan lain yang setara, misalnya
mengarang, atau menulis cerita.
e.Omisi
beberapa aspek tertentu kurikulum umum sebagian besar ditiadakan menyesuaikan dengan karakteristik dan kemampuan peserta didik berkebutuhan khusus. Mereka dapat dibuatkan kurikulum
khusus yang bersifat individual berdasarkan hasil identifikasi dan asesmen
Sumber Materi di PMM Pembelajaran denganpeserta didik berkebutuhan khusus